PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI PENDIDIKAN


A.      Pengertian Supervisi Pendidikan
Menurut Neagley (1980), supervisi adalah pelayanan kepada guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan instruksional, belajar dan kurikulum. Supervisi diartikan sebagai bantuan, pengarahan, bimbingan kepada guru-guru dalam bidang instruksional, belajar dan kurikulum.
Sedangkan menurut Robbins (1981) mengemukakan bahwa supervisi itu sebagai suatu kegiatan pengarahan langsung terhadap kegiatan-kegiatan bawahan. Robbins membatasi, bahwa yang dapat memberikan pengarahan tersebut hanyalah administrator terdepan saja.
Daresh (1989) mendefinisikan supervisi sebagai suatu proses mengawasi kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Wiles (1956), supervisi sebagai bantuan dalam mengembangkan situasi belajar mengajar.
Dari berbagai pendapat di atas, secara umum bahwa kegiatan supervisi pendidikan yang ditujukan untuk perbaikan situasi belajar mengajar itu dilakukan melalui peningkatan kemampuan profesi para guru dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu secara sederhana supervisi dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki situasi belajar mengajar.

B.       Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan
Supervisi adalah pembinaan kearah perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajar pada khususnya. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang dapat memperbesar dan mengembangkan kesanggupan anggota staf untuk dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam tugasnya. Oleh karena itu seorang supervisor harus memahami prinsip-prinsip supervisi pendidikan.
Bagi supervisor, prinsip supervisi pendidikan merupakan pedoman untuk bertindak, atau pokok-pokok yang harus dipegang dalam melaksanakan tugasnya. Sebagai suatu pedoman sudah semestinya prinsip supervisi pendidikan sesuai dengan norma dan tujuan pendidikan. Adapun prinsip-prinsip supervisi pendidikan yang dikemukakan oleh N.A. Ametembun (1981:12) ada dua yaitu prinsip fundamental dan prinsip praktis, yang dibedakan menjadi dua yaitu prinsip praktis yang positif dan yang negatif.
Seiring dengan N.A. Ametembun, Soekarto Indrafachrudi (1994:72) mengemukakan adanya prinsip supervisi pendidikan yang asasi yaitu Pancasila, dan dua prinsip yang lain yaitu : prinsip positif, yaitu prinsip yang patut kita ikuti, dan prinsip negatif yaitu prinsip yang sebaiknya kita hindari. Dalam uraian lebih lanjut dijelaskan, bahwa prinsip positif itu meliputi :
1)        Supervisi dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif
Supervisor sebaiknya seorang yang demokratis. Ia harus menghargai usul, pendapat dan kepribadian guru. Dalam pembicaraan sesuatu harus memberikan kesempatan kepada guru untuk melahirkan buah pikiran, perasaan dan pendapat mereka. Keputusan yang diambil hendaknya melalui jalan musyawarah, mufakat dan kekeluargaan. Tujuan yang akan dicapai adalah tujuan bersama. Dalam suasana yang demikian maka terjalinlah rasa kebersamaan dalam melaksanakan tugas di sekolah. Susasana seperti ini akan sangat mendukung keberhasilan siswa dalam belajar.
2)        Supervisi bersifat kreatif dan konstruktif
Supervisor yang baik akan mengetahui kelebihan-kelebihan para guru. Supervisor memberikan dorongan untuk mengembangkan kelebihannya untuk menciptakan situasi yang kondusif. Kekurangan dan kesalahan guru dibicarakan bersama dan dicari jalan pemecahannya secara bersama dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar. Supervisor berperan untuk memberikan contoh bagi para guru.
3)        Supervisi harus scientific dan efektif
Dalam melaksanakan tugasnya supervisor harus bersifat scientific, bahwa ia harus mendengarkan dengan cermat dan penuh perhatian apa yang disampaikan guru, mengumpulkan data dan menganalisis dengan seksama, dan akhirnya menarik kesimpulan untuk mengambilkan keputusan. Supervisor membantu para guru dalam melaksanakan tugas mengajar, serta mengkoordinasi antara teori dan praktek.
4)        Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman pada guru
Para guru harus mengetahui dan memahami bahwa supervisor tidak akan mencari kesalahan atau kekurangan, tetapi justru membantu mereka dalam meningkatkan mutu pekerjaan para guru, agar mereka merasa bertumbuh dan berkembang. Guru harus dapat merasakan bahwa supervisor merupakan orang yang dapat menolong dan membantu memecahkan masalah yang mereka hadapi. Dengan demikian para guru akan merasa aman dan tidak tertekan an tidak terpaksa untuk melaksanakan tugasnya.
5)        Supervisi harus berdasarkan pada kenyataan
Pelaksanaan supervisi di sekolah henaknya didasarkan pada data yang senyatanya, apa yang disaksikan, apa yang dilihat, apa yang diketahui, dan bukan data yang dibuat-buat atau dimanipulasi. Dengan data yang dapat dipercayai ini diharapkan akan memberikan kesimpulan dan keputusan yang benar dan tepat pula, dan bukan kesimpulan yang diduga-duga.
6)        Supervisi harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru untuk mengadakan self-evaluation
Dengan mengadakan self-evaluation, supervisor akan mengetahui kekurangan dan kelebihannya, sehingga akan memberikan dorongan untuk mengembangkan dirinya sendiri sebelum membantu para guru.

Prinsip yang negatif meliputi :
1)        Seorang supervisor tidak boleh bersifat otoriter.
2)        Seorang supervisor tidak boleh mencari kesalahan guru.
3)        Seorang supervisor bukan inspektur yang bertugas memeriksa pelaksanaan suatu keputusan atau peraturan.
4)        Seorang supervisor tidak boleh menganggap dirinya lebih tinggi daripada guru.
5)        Seorang supervisor tidak boleh terlalu banyak memperhatikan hal-hal yang kecil dalam cara guru mengajar.
6)        Seorang supervisor tidak boleh lekas kecewa jika mengalami kegagalan.

Menurut E. Mulyasa, prinsip-prinsip supervisi antara lain:
1)        Hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis;
2)        Dilaksanakan secara demokratis;
3)        Berpusat pada tenaga kependidikan (guru);
4)        Dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru);
5)        Merupakan bantuan profesional.
Sehubungan dengan prinsip supervisi ini Piet Sahertian dan Frans Mataheru (1982:30), serta Suharsimi Arikunto (1982) mengemukakan beberapa prinsip supervisi pendidikan sebagai berikut:
1)        Ilmiah (Scientific) yang mencakup
a.       Sistematis yaitu dilaksanakan secara teratur, berencana, kontinyu.
b.      Objektif artinya data yang didapatkan haruslah data yang nyata bukan data yang bersifat penafsiran.
c.       Menggunakan alat (instrumen) yang dapat memberi informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar.
2)        Demokratis, maksudnya menjunjung tinggi asas musyawarah, memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain.
3)        Kooperatif, maksudnya seluruh staf dapat bekerjasama sehingga tercipta situasi yang baik.
4)        Konstruktif dan kreatif, yaitu mampu membina dan menciptakan situasi yang memungkinkan untuk mengembangkan potensi-potensi secara optimal.
5)        Kontinyu yaitu bahwa supervisi perlu dilaksanakan secara terus menerus.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Suharsimi Arikunto (1982) mengemukakan prinsip-prinsip supervisi pendidikan, walaupun tidak persis sama, namun pada dasarnya mencakup unsur-unsur yang sama.(Hartati Sukirman : 96-100).
Sedangkan Oteng Sutisna mengemukakan prinsip dalam pelaksanaan kegiatan supervisi, yaitu:
1)        Supervisi merupakan bagian integral dari program pendidikan yang bersifat kooperatif dan mengikutsertakan.
2)        Semua guru memerlukan dan berhak atas bantuan supervisi.
3)        Supervisi hendaknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari personil sekolah.
4)        Supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan-tujuan dari sasaran-sasaran pendidikan.
5)        Supervisi hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari semua anggota staf sekolah.
6)        Tanggung jawab bagi pengembangan program supervisi berada pada kepala sekolah bagi sekolahnya.
7)        Efektivitas program supervisi hendaknya dinilai secara periodik.


C.      Tipe Supervisi Pendidikan
Tipe supervisi pendidikan dilihat dari bentuk supervisi dapat dibedakan  atas :
a.         Tipe otokratis yaitu menganggap bahwa ia sebagai penentu segala kebijakan dan bagaimana menjalankannya.
b.        Tipe demokratis yaitu supervisi berfungsi membina otoritas supervisor seimbang dengan otoritas pihak yang disupervisi.
c.         Tipe demokratis semu yaitu supervisor dengan licik memaksakan keinginannya, namun nampak seolah-olah demokratis.
d.        Tipe manipulasi diplomasi yaitu supervisor melaksanakan prinsip demokrasi seperti rapat, namun dengan kelihaiannya ia menggiring pikiran peserta sesuai kehendaknya.
e.         Tipe laisse-fire yaitu supervisor menginterpretasikan demokrasi dengan memberikan kebebasan kepada bawahannya, sehingga supervisor kehilangan otoritasnya sendiri.

D.      Proses Supervisi Pendidikan
Proses supervisi pendidikan diantaranya yaitu :
1)        Supervisi Preventif
Dalam proses supervisi, supervisor memberikan nasehat-nasehat untuk menghindari kesalahan-kesalahan.
2)        Supervisi Korektif
Dalam proses supervisi, supervisor bersifat mencari kesalahan bawahannya, baik secara prinsipil, teknis, maupun dalam melaksanakan instruksi dari supervisor.
3)        Supervisi Konstruktif
Dalam supervisi, supervisor memperhatikan prestasi bawahannya (seperti : inisiatif, daya cipta, penelitian, dan lain-lain) yang kemudian memberikan berbagai macam penghargaan yang sesuai.
4)        Supervisi Kooperatif
Dalam supervisi, supervisor mengutamakan kerjasama, partisipasi, musyawarah dan toleransi dengan bawahan demi kemajuan pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA

Sukirman, Hartati, dkk. ____. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press.
Akholik. 2011. Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan. Diakses di di http://akholik.wordpress.com/2011/05/06/prinsip-prinsip-supervisi-endidikan/ pada Senin, 09 Oktober 2011 pukul 19.00
A. Sahertian, Piet. 1981. Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.

No Response to "PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI PENDIDIKAN"